Ayahnya, Abdullah, wafat ketika Nabi Muhammad SAW masih berada dalam kandungan. Ibunya, Aminah, menyusul wafat ketika beliau baru berusia enam tahun. Dua tahun kemudian, kakek yang mengasuhnya, Abdul Muttalib, turut berpulang. Sebelum genap berusia sepuluh tahun, Nabi Muhammad SAW telah kehilangan tiga sosok terdekat dalam hidupnya.
Rangkaian kehilangan ini bukan kebetulan sejarah, melainkan bagian dari rancangan yang membentuk seseorang yang kelak menjadi rahmat bagi seluruh alam. Al-Qur'an sendiri menyinggung fase ini dalam Surat Ad-Dhuha, mengingatkan bahwa Allah tidak pernah menelantarkan hamba-Nya yang menjadi yatim.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat-ayat awal Surat Ad-Dhuha turun sebagai penenang bagi Nabi Muhammad SAW, mengingatkan kembali bagaimana Allah menjaganya sejak masa kanak-kanak yang penuh kehilangan. Dari fase inilah setidaknya tiga hikmah besar dapat kita telusuri.
1. Kehilangan Bukan Akhir dari Kasih Sayang Allah
Meski kehilangan ayah, ibu, dan kakek dalam rentang waktu yang singkat, Nabi Muhammad SAW tidak pernah benar-benar sendirian. Allah menghadirkan Halimah Sa'diyah, Abdul Muttalib, dan kemudian Abu Thalib sebagai pengasuh di setiap fase kehidupannya. Ini menjadi bukti bahwa kehilangan satu bentuk kasih sayang tidak pernah menutup pintu bagi hadirnya kasih sayang yang lain.
2. Empati Lahir dari Pengalaman, Bukan Sekadar Teori
Pengalaman sebagai yatim piatu membentuk kepekaan luar biasa dalam diri Nabi Muhammad SAW terhadap anak-anak yatim dan kaum lemah. Kelak, beliau berulang kali menekankan keutamaan menyantuni anak yatim, sebuah ajaran yang lahir bukan dari teori, melainkan dari pengalaman hidup yang beliau rasakan sendiri sejak kecil.
3. Allah Menyiapkan Penjaga Meski Manusia Berguguran
Setiap kali satu pelindung berpulang, Allah selalu menghadirkan pelindung berikutnya bagi Nabi Muhammad SAW. Pola ini mengajarkan bahwa rezeki dan perlindungan dari Allah tidak selalu datang dari satu sumber yang tetap, melainkan bisa berpindah tangan sesuai kehendak-Nya, selama seorang hamba tetap bersandar kepada-Nya.
Masa kecil yang penuh kehilangan ini pada akhirnya justru melahirkan sosok yang dikenal sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Bagi siapa pun yang pernah merasakan kehilangan besar dalam hidupnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa luka masa kecil, jika dijalani dengan sabar, bisa menjadi sumber kekuatan dan empati di kemudian hari.
