Tersingkap Sedikit, Batal Nggak Ya? Memahami Batas Aurat Tangan dan Kaki Muslimah

Tersingkap Sedikit, Batal Nggak Ya? Memahami Batas Aurat Tangan dan Kaki Muslimah

Menjaga aurat merupakan bagian penting dari ketaatan seorang muslimah. Namun dalam praktik sehari-hari, sering muncul pertanyaan: jika aurat tersingkap sedikit, apakah masih ditoleransi? Terutama pada bagian tangan dan kaki yang kerap terpapar tanpa disadari.

Secara fikih, mayoritas ulama dari Madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Pergelangan tangan menjadi batas akhir yang wajib ditutup, sehingga lengan setelahnya tidak boleh terlihat. Sementara itu, untuk kaki, jumhur ulama berpendapat bahwa seluruh bagian kaki—termasuk telapak dan punggungnya—adalah aurat yang harus ditutupi. Madzhab Hanafiyah memang memberi keringanan pada telapak kaki, namun sikap kehati-hatian tetap menganjurkan untuk menutupnya secara sempurna.

Rasulullah SAW bersabda kepada Asma binti Abu Bakar r.a. bahwa wanita yang telah baligh tidak boleh terlihat anggota tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan (HR. Abu Daud No. 4140). Hadits ini menjadi landasan utama dalam pembahasan aurat muslimah.

Dalam keseharian, aurat sering tersingkap bukan karena niat, melainkan karena aktivitas. Saat mengangkat tangan, lengan baju bisa melorot. Saat duduk atau naik kendaraan, mata kaki dan betis dapat terlihat. Model lengan lebar tanpa inner pun kerap menjadi celah tanpa disadari. Dalam kondisi tidak sengaja dan segera ditutup kembali, para ulama memaafkannya. Namun jika sejak awal busana memang dirancang pendek atau terbuka, hal tersebut tidak termasuk dalam toleransi.

Di sinilah Hijaberlin mengambil peran. Setiap koleksi dirancang bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga fungsional bagi muslimah aktif. Potongan lengan yang lebih panjang, detail manset yang aman, siluet longgar yang jatuh sempurna, hingga padanan yang ideal dengan handsock dan kaos kaki—semuanya hadir sebagai solusi, bukan kompromi.

Menjaga aurat bukan tentang membatasi gaya, tapi tentang memilih dengan sadar. Bersama Hijaberlin, muslimah tidak hanya berpakaian—namun merawat adab, iman, dan keindahan dalam satu harmoni.
Always modest. Always mindful. Always Hijaberlin.