Mengenal Bulan September dalam Islam: Meneladani Semangat Rabi’ul Awal

Hari-hari dalam kalender Masehi terus bergulir, membawa kita pada bulan September yang sering kali beririsan langsung dengan bulan Rabi'ul Awal dalam penanggalan Hijriah. Bagi seorang Muslim, pergantian bulan bukan sekadar penanda waktu, melainkan momentum untuk merefleksikan kembali perjalanan sejarah Islam dan kedekatan diri kepada Sang Pencipta.

Bulan September yang bersisian langsung dengan bulan Rabi’ul Awal menjadi momentum sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang tentunya dijadikan sebagai hari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, atau yang biasa disebut Maulid Nabi. Perayaan ini dirayakan oleh umat Islam setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal dalam penanggalan Hijriah. Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi wujud rasa cinta umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW, bentuk penghormatan kepada suri teladan, dan bentuk rasa syukur atas lahirnya Rasulullah SAW yang telah membawa ajaran Islam bagi seluruh alam.

Momentum perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini membangun semangat, serta kesadaran umat Islam untuk merawat kecintaan kepada Rasulullah dengan amalan-amalan yang dianjurkan. Berikut amalan yang dianjurkan dalam momentum perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW:

  1. Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِمْ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu sekalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Serta sabda Rasulullah SAW:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عليه عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408).

Nabi Muhammad SAW memiliki perjuangan yang sangat hebat dalam menyebarkan kebaikan agama Islam kepada seluruh alam, ada banyak pengorbanan yang harus ia relakan demi menolong umat-umatnya dari masa-masa jahiliyah. Oleh karena itu, memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk pengakuan kita sebagai umat Muslim atas jasa besar Rasulullah kepada umat Muslim. Selain itu, shalawat juga merupakan bentuk cinta kita padanya, shalawat menjadi sarana untuk memperkuat cinta kita kepada Rasulullah SAW, dan menumbuhkan hubungan batin yang tulus kepadanya.

  1. Meneladani Akhlak dan Sunnah Rasulullah

    Kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya dengan diucapkan melalui perkataan saja, melainkan perlu dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan baik dari akhlak dan sifat mulia Rasulullah. Sebagai suri teladan utama, Rasulullah SAW memiliki empat sifat wajib yang menjadi pilar kepribadian agung beliau, yaitu:

  • Shiddiq (Jujur):
    Selalu benar dalam perkataan dan perbuatan. Beliau tidak pernah berdusta baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi nabi, sehingga dijuluki Al-Amin (yang dapat dipercaya). Sifat ini mengajarkan kita untuk selalu menjunjung tinggi kejujuran dalam segala aspek kehidupan sehari-hari.

  • Amanah (Terpercaya / Bertanggung Jawab):
    Selalu menjaga dan menunaikan segala bentuk titipan serta tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dengan penuh integritas tanpa ada kecurangan sedikit pun.

  • Tabligh (Menyampaikan):
    Menyampaikan seluruh risalah, wahyu, dan kebenaran dari Allah SWT kepada umatnya secara utuh tanpa ada yang disembunyikan, mengajarkan kita untuk senantiasa menyebarkan kebaikan dan ilmu yang bermanfaat kepada sesama.

  • Fathanah (Cerdas / Bijaksana):
    Memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang luar biasa dalam memimpin umat, menyelesaikan berbagai persoalan pelik dengan strategi yang tepat, serta mengambil keputusan secara bijaksana.

Memiliki dan meneladani sifat-sifat terpuji tersebut patutlah kita ikuti dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari agar kepribadian kita senantiasa selaras dengan tuntunan sunnah beliau.

3. Mempersiapkan Perjalanan Spiritual: Ziarah ke Tanah Suci
Mencintai Rasulullah dan meneladani berbagai sifat baiknya kerap kali memicu kerinduan mendalam kepadanya, kerinduan tersebut membawa angan dan cita-cita besar untuk berkunjung ke tempat-tempat suci. Ziarah menjadi ekspresi kerinduan dan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, bentuk penghormatan kepadanya, dan menjadi sarana mempraktikkan apa yang Nabi sunnahkan, mengunjungi makam Rasulullah SAW merupakan bentuk nyata dari pengamalan mencintai itu. 

Para ulama sepakat bahwa mengunjungi makam Nabi menjadi amalan yang paling dianjurkan bagi setiap Muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah. Ziarah ke makam Nabi Muhammad bukan hanya menjadi bentuk penghormatan, tetapi juga sarana memperkuat iman dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

مَنْ زَارَ قَبْرِي وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي 

“Barangsiapa yang menziarahiku setelah wafatku, maka seolah-olah dia menziarahiku ketika aku masih hidup” (serta dalam riwayat lain disebutkan mengenai keutamaan ziarah: “Barangsiapa yang menziarahi kuburanku, wajib baginya syafaatku” — HR. Al-Daraquthni, dishahihkan Imam Al-Albani dalam kitab Al-Targhib wa Al-Tarhib).

Hadis tersebut menjadi dasar bahwa berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW memiliki kedudukan dan keutamaan yang sangat besar, dan tentunya harus dilakukan dengan ikhlas, sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam, serta niat yang benar.

Bulan September sebagai bulan yang bersisian langsung dengan bulan Hijriah Rabi’ul Awal, menjadi momen dipenuhinya bulan ini dengan semangat dan kesadaran atas cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini menjadikan bulan September sebagai bulan yang dipenuhi dengan sukacita karena diisi dengan perayaan kelahiran Nabi, melalui berbagai amalan yang menjadikan bulan ini sebagai bulan yang hidup penuh dengan sunnah dan shalawat dalam keseharian, membawa keberkahan yang melimpah bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh mengamalkannya.