Bukan Sekadar Berjalan: 4 Makna Mendalam Sa'i sebagai Simbol Perjuangan Seorang Ibu (Siti Hajar)

Tujuh kali bolak-balik di antara dua bukit, Safa dan Marwah. Bagi sebagian jamaah, sa'i sering dianggap sekadar rangkaian fisik yang harus diselesaikan sebelum tahalul—jalan cepat, berkeringat, lalu selesai. Padahal di balik langkah-langkah itu, tersimpan jejak perjuangan seorang ibu bernama Hajar yang berlari tanpa lelah demi satu hal: keselamatan anaknya.

Secara fikih, jumhur ulama dari mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanbali sepakat bahwa sa'i termasuk rukun haji dan umrah yang tidak bisa digantikan dengan dam. Sa'i dilakukan sebanyak tujuh kali, dimulai dari bukit Safa dan diakhiri di bukit Marwah. Bagi laki-laki, dianjurkan harwalah—berjalan agak cepat—di antara dua pilar hijau yang menjadi penanda jalur, sebagai bentuk mengenang bagaimana Hajar berlari-lari kecil karena kepanikan mencari air untuk putranya, Ismail.

Ketentuan yang tampak teknis ini sebenarnya mengarahkan pada empat makna besar yang jarang benar-benar kita renungkan saat menjalani sa'i.

1. Perjuangan yang Tidak Berhenti pada Ikhtiar

Hajar tidak hanya berdiam diri menanti pertolongan datang. Ia naik ke Safa, melihat sekeliling, lalu berlari menuju Marwah, kembali lagi ke Safa—diulang hingga tujuh kali—semata demi mencari setetes air bagi anaknya yang menangis kehausan. Sa'i mengajarkan bahwa doa dan tawakal tidak meniadakan usaha. Justru sebaliknya, usaha yang sungguh-sungguh adalah bagian dari doa itu sendiri.

2. Tawakal Setelah Usaha Maksimal

Air Zamzam tidak muncul dari arah yang dituju Hajar berlari, melainkan dari hentakan kaki kecil Ismail di tempat mereka berada. Setelah tujuh kali berusaha tanpa henti, pertolongan Allah datang dari arah yang sama sekali tidak diperkirakan. Kisah ini terekam dalam hadits sahih riwayat Bukhari tentang kisah Ibrahim, Hajar, dan Ismail di lembah Mekah. Sa'i mengingatkan jamaah bahwa hasil akhir sepenuhnya adalah hak Allah untuk menentukan, sementara manusia hanya diminta menyempurnakan ikhtiar.

3. Jejak Kasih Sayang Seorang Ibu

Dari jutaan peristiwa dalam sejarah para nabi, Allah memilih untuk mengabadikan larian seorang ibu sebagai bagian dari rukun ibadah yang paling agung. Bukan peperangan, bukan pula mukjizat besar, melainkan kepanikan dan kasih sayang seorang perempuan yang tidak rela anaknya kehausan. Setiap jamaah yang bersa'i sesungguhnya sedang menapaktilasi cinta seorang ibu, sekaligus diingatkan untuk memuliakan peran ibu dalam kehidupannya sendiri.

4. Kesetaraan dalam Mengikuti Jejak Seorang Perempuan

Tidak ada ibadah lain yang mewajibkan seluruh umat manusia, laki-laki maupun perempuan, pejabat maupun rakyat biasa, untuk mengikuti langkah seorang perempuan seperti dalam sa'i. Di sini, kemuliaan bukan ditentukan oleh kedudukan sosial, melainkan oleh kesungguhan berjuang di jalan Allah. Sa'i menjadi pengingat bahwa Allah mengangkat derajat seseorang bukan dari status yang disandang, tetapi dari keikhlasan usahanya.

Setiap langkah antara Safa dan Marwah bukan sekadar rute yang harus dituntaskan, melainkan pengulangan cerita panjang tentang ikhtiar, tawakal, cinta seorang ibu, dan kesetaraan di hadapan Allah. Sa'i mengajak setiap jamaah untuk bertanya pada dirinya sendiri: sejauh mana ikhtiar telah dilakukan, dan sebesar apa kepercayaan diletakkan kepada Allah atas hasil akhirnya.