3 Keteladanan yang Bisa Dipetik dari Aisyah RA

Aisyah RA adalah salah satu sosok perempuan paling mulia dalam sejarah Islam. Dia dikenal sebagai salah satu istri Rasulullah SAW yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam karena perannya sebagai perawi hadis. Aisyah RA juga menjadi perempuan dengan pengetahuan seputar Islam yang paling kaya di eranya, menguasai perihal Fiqih dan ilmu tafsir. Bahkan, salah satu sahabat nabi, Abu Musa Al Asy’ari berkata bahwa ketika para sahabat menemukan hadis yang tidak dipahami, mereka akan menanyakannya ke Aisyah RA.


Kepintaran, ketakwaan, dan keistimewaan Aisyah RA sudah sepatutnya menjadi suri teladan bagi perempuan Muslim modern dapat berperilaku. Untuk itu, di artikel ini kami akan membahas tiga sifat teladan yang dapat kita ikuti dari Aisyah RA.


Tidak Mementingkan Diri Sendiri


Di sebuah riwayat, Aisyah RA yang sedang berpuasa pernah dihadiahi 100 ribu dirham yang dibungkus dalam dua karung. Setelah mendapatkannya, Aisyah RA langsung membagikan uang tersebut kepada orang miskin tanpa tersisa sepeserpun. Pembantunya pun bertanya mengapa ia tidak menyisakan satu dirham saja untuk membeli daging sebagai bahan berbuka puasa. Aisyah RA lantas menjawab “kalau tadi aku ingat, maka akan kulakukan.”


Dari riwayat tersebut, bisa kita pahami betapa Aisyah RA tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Bahkan ketika mendapatkan hadiah uang yang banyak pun, hal pertama yang dipikirkannya adalah bagaimana uang tersebut bisa membantu orang-orang yang membutuhkan. Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dirinya sendiri pun berhak untuk menikmati uang tersebut.


Berserah Diri Sepenuhnya Kepada Allah SWT


Suatu waktu, pernah muncul fitnah keji tentang Aisyah RA. Diriwayatkan bahwa dalam sebuah perjalanan menuju Madinah, Aisyah RA tanpa sengaja tertinggal dari rombongan saat pergi mencari barang yang terjatuh. Berharap rombongannya akan menyadari ketiadaan dirinya, Aisyah RA menunggu di tempat semula. Kemudian, datang seorang pria bernama Safwan bin Muattal yang kemudian mendampinginya hingga tiba di Madinah.


Melihat hal tersebut, muncullah fitnah yang mengatakan bahwa Aisyah RA telah berbuat zina dengan pria tersebut, yang memang bukan mahramnya. Aisyah RA, yang jatuh sakit sejak tiba di Madinah, terlambat mengetahui bahwa rumor tersebut telah tersebar luas. Setelah mendengarnya dari sang ibu, istri Rasulullah SAW tersebut menangis sepanjang hari dan malam, namun juga menyerahkan takdirnya sepenuhnya kepada Allah SWT. Hingga akhirnya, Allah SWT yang membersihkan namanya dengan menurunkan ayat 6 - 11 dari Surat An-Nur.


Dari riwayat tersebut, perempuan Muslim bisa belajar untuk selalu bertawakal kepada Allah SWT di semua kejadian buruk yang menimpa diri kita. Kendati perasaan sedih yang dialami terasa tak tertahankan, pastikan untuk selalu berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT sebab hanya Dia yang dapat menolong kita dari segala macam musibah dan membersihkan nama kita dari segala macam fitnah.


Tajam dalam Berpikir


Seperti sudah disinggung, Aisyah RA adalah salah satu perawi hadis Rasulullah SAW yang paling banyak. Sebagai seorang istri yang banyak menghabiskan waktu bersama Rasulullah SAW, dirinya selalu mengamati perbuatan dan dan mengingat perkataan Rasulullah SAW tanpa cacat untuk diriwayatkan sebagai hadis. Hal ini tentu mustahil dilakukan bila dirinya tidak memiliki pikiran yang tajam dan ingatan yang baik.


Aisyah RA pernah berdebat panas dengan sahabat Rasulullah SAW, Abdullah bin Abbas RA tentang salah satu hukum Islam. Kemudian, setelah mendengarkan kuatnya argumen Aisyah RA, Abdullah bin Abbas RA mengaku kalah dan menerima fakta bahwa Aisyah RA memiliki pendapat yang lebih baik. Selain menjadi bukti ketajaman berpikir, kisah ini juga memperlihatkan Aisyah RA sebagai sosok perempuan yang berani berpendapat dan tidak ragu meluruskan kesalahan berpikir laki-laki.


Demikian adalah tiga macam sifat terpuji dari Aisyah RA yang patut diteladani oleh perempuan Muslim modern. Semoga, dengan mengetahui seperti apa sosok istri Rasulullah SAW tersebut, kita dapat meningkatkan kualitas diri dan keimanan. Aamiin.